Langsung ke konten utama

Postingan

Kebanyakan dari kita tanpa kita sadari mulai menjadi realistis. Banting setir. Berbelok arah dari apa yang telah lama dijalani, entah karena paksaan atau tahanan, menuju arah jalan yang berbeda, bahkan tidak sedikit yang kontradiktif. Pada titik semacam itulah kita mulai merasa lelah. Kebingungan. Mulai menanyakan "apakah selama ini aku salah jalan?".  . Hai kamu,  bahwa dari kebingungan dan kesedihan akan kerelaan untuk melepas apa-apa yang sudah lama kita pegang ada satu yang perlu kita sadari dari peluh, selain kita sedang bertumbuh hidup kita bergeser dari "mencari makna" menuju "menjadi makna".
Postingan terbaru
Untuk setiap huruf yang telah kau susun. Semoga dapat menumbuhkan harapan baru. Untuk setiap kalimat yang sukses kau rangkai. Semoga dapat menghadirkan semangat baru. Untuk setiap paragraf yang berhasil kau tata. Semoga dapat menggelorakan cita. Untuk mu yang sedang berjuang merealisasikan kata kalimat, dan paragrafnya dalam setiap pilihan jenakanya. Selamat bertemu dengan kejutan demi kejutan yang akan selalu menerbitkan purnama di wajahmu.
Huruf-huruf itu telah lama menguap. Menyatu dengan udara.  Mencari tempat yang tepat.  Mencuri dengar suara nurani yang nyaris tak terdengar. . "Ada sinyal yang tertangkap, ia menyulam huruf-huruf itu dalam rangkaian doa-doa" Samar terdengar riuh...  .  "Gugur pun berganti semi"  Ungkapnya tegar.

POHON HIJAU

POHON HIJAU ITU BERDIRI KAKU Megahnya di celah pepohonan, ibarat lukisan hidup TETAP TEGAK DAN KAKU Lantas desiran kedengaran, amat sayu dan sayu, ia mulai bergerak Begitulah diibaratkan Dunia dengan kehidupan Bermulanya di daratan Kini menuju ke tengah lautan Angin yang menderu Datang tak menentu Ombak memukul pelayaran Apakah tergoyang keimanan Untukmu kawan Bajakilah hidupmu Siramilah hatimu dengan ketakwaan Dalam mencari keridhoan Tuhan Hati-hati teman menitis laju kehidupan Nan rapuh bisa cair dan luntur Bersama angin lalu titipkan harapan Agar tetap tabah hadapi cabaran Bila kejayaan sudah digenggam Ingat" teman kita akan pulang

RUMAH

Seseorang bilang, rumah adalah tempat ternyaman untuk pulang. Iya bukan?  .  Hemm... Ada sebagian orang menganggap pulang adalah tempat ternyaman setelah proses pencarian panjang. Sebagian yang lain menganggap pulang membuatnya tak nyaman.  Ada yang raganya di rumah tapi tidak dengan hatinya.  Ada yang begitu merindukan rumah untuk sekedar melepas lelah.  Ada juga yang bahkan hanya ingin tetap tinggal di rumah, kemampuan ia pergi rumah adalah tempat nya pulang.  Begitulah...  . Pulangmu tidak hanya tentang jasad yang hadir, karena betapa banyak orang yang berdekatan tapi tidak terikat hatinya. Betapa banyak orang yang pulang ke rumah tapi tidak benar-benar mereka pulang, mungkin jasad nya di sana tapi tidak dengan hati dan pikirannya. Pulangmu tidak harus selalu melalui darat,laut, ataupun udara, pulang mu juga bisa melalui suara yang menghubungkanmu dengan orang-orang di rumah atau teman-teman yang jauh di perantauan. Kamu hadir di sana me...

HANYA CERITA DUNIA SAJA

Butuh berapa lama seseorang itu mau memaafkan luka masa lalunya? untuk mau membawa bijak hingga hari ini.  . Manusia itu suka menggerutu, ketika diberi sesuatu yang bukan sesuai harapannya, selalu mengadu.  " Kenapa Allah beri yang ini padahal aku maunya yang itu " begitu katanya. Ketika sesuatu tidak sesuai ekspektasimu cobalah mencari tahu tentang kesalahanmu. Percayalah, waktu itu tidak akan memberikan jawaban tanpa bertemankan makna.  . Dunia ini terus berlari kawan. Jangan malah kau berhenti pada satu titik yang sama. Terus mau di bengkalai pada waktu siamu.  . Ketahuilah kawan, berhentilah menunggu. Tak akan ada yang menjamin kapan terang datang saat gelap menyerang.  Pelangipun tak selalu hadir selepas hujan.  . Tak ada yang bisa menggenggam pasti diantara perubahan.  Rasa sakit hari ini belum tentu besok tersenyum.  Belum tentu hari ini hadir, besok sudah pergi begitu saja. Belum tentu hari ini memberikan hangat, besok sudah me...

ANTARA DIRIKU DAN MASA LALU

Malam semakin larut, kantung mataku sudah berat menuliskan ini. Pikiran ku sudah tak fokus. Berantakan.  Sedangkan di luar hujan semakin deras, ku dengar decitan jendela dari dalam kamarku. Nampaknya ada yang tidak beres di luar maupun di dalam.  Lampu sudah mulai sedikit redup, hanya suara jangkrik malam yang sedari tadi bising sekali.  Aku memilih senyap, sembunyi di balik selimut bersama gelap. Sambil memainkan handphone ku ajak jari-jari kecilku mengetik agar bisa terlelap.   Ternyata aku buntu, lirihku seketika. Ah, jelas saja bukankah pikiran ini sudah tak bisa di ajak kompromi?   Mungkin ia lelah, matikan saja handphone mu.  Aku bangkit, membuka mata lalu tiba-tiba tertuju pada tumpukan buku yang sudah berdebu. Rupanya ia mencuri perhatianku, ku bersihkan ia dan ku buka lembar demi lembar nya.  Aku dibuatnya larut pada ingatan masa lalu. Membacanya sesekali tersenyum sesekali tertawa dan sesekali terdiam. Begitukah aku di m...