Sedangkan di luar hujan semakin deras, ku dengar decitan jendela dari dalam kamarku. Nampaknya ada yang tidak beres di luar maupun di dalam.
Lampu sudah mulai sedikit redup, hanya suara jangkrik malam yang sedari tadi bising sekali.
Aku memilih senyap, sembunyi di balik selimut bersama gelap. Sambil memainkan handphone ku ajak jari-jari kecilku mengetik agar bisa terlelap.
Ternyata aku buntu, lirihku seketika. Ah, jelas saja bukankah pikiran ini sudah tak bisa di ajak kompromi?
Mungkin ia lelah, matikan saja handphone mu.
Aku bangkit, membuka mata lalu tiba-tiba tertuju pada tumpukan buku yang sudah berdebu. Rupanya ia mencuri perhatianku, ku bersihkan ia dan ku buka lembar demi lembar nya.
Aku dibuatnya larut pada ingatan masa lalu. Membacanya sesekali tersenyum sesekali tertawa dan sesekali terdiam. Begitukah aku di masa lalu? gumamku. 'Prakk' (sambil ku banting buku itu ke lantai)
Bukan ingin mengungkit, bukan ingin menyalahi, apalagi meratapi.
Namun hanya tak ingin membuka bagian-bagian yang sudah ku kubur dalam-dalam.
'Sudahi saja ya membacanya'
.
Ku tarik selimut ku lagi,
Aku bertanya tanya tentang apa sebenarnya yang belum selesai antara aku dengan diriku sendiri. Sementara aku telah memaafkan diriku, menerima masa lalu, berdamai dengan keadaan, dan ku selesaikan segala perencanaan.
Tapi nyatanya ada satu yang belum pernah aku selesai, yaitu memperbaiki sikapku dengan Rabbku. Itu adalah pekerjaan yang tak pernah selesai memang, dan ini harus terus ku perbaiki sampai jatah hidupku selesai.
.
Dari sini aku belajar, apa arti menerima keadaan. Karena masa depan baik itu hanya untuk orang orang yang mau memperbaiki kesalahannya di masa lalu.
Maafkan, lepaskan, pergilah !
Komentar
Posting Komentar