Langsung ke konten utama

ANTARA DIRIKU DAN MASA LALU


Malam semakin larut, kantung mataku sudah berat menuliskan ini. Pikiran ku sudah tak fokus. Berantakan. 
Sedangkan di luar hujan semakin deras, ku dengar decitan jendela dari dalam kamarku. Nampaknya ada yang tidak beres di luar maupun di dalam. 
Lampu sudah mulai sedikit redup, hanya suara jangkrik malam yang sedari tadi bising sekali. 
Aku memilih senyap, sembunyi di balik selimut bersama gelap. Sambil memainkan handphone ku ajak jari-jari kecilku mengetik agar bisa terlelap.  
Ternyata aku buntu, lirihku seketika. Ah, jelas saja bukankah pikiran ini sudah tak bisa di ajak kompromi?  
Mungkin ia lelah, matikan saja handphone mu. 
Aku bangkit, membuka mata lalu tiba-tiba tertuju pada tumpukan buku yang sudah berdebu. Rupanya ia mencuri perhatianku, ku bersihkan ia dan ku buka lembar demi lembar nya. 
Aku dibuatnya larut pada ingatan masa lalu. Membacanya sesekali tersenyum sesekali tertawa dan sesekali terdiam. Begitukah aku di masa lalu? gumamku. 'Prakk' (sambil ku banting buku itu ke lantai) 
Bukan ingin mengungkit, bukan ingin menyalahi, apalagi meratapi.  
Namun hanya tak ingin membuka bagian-bagian yang sudah ku kubur dalam-dalam. 
'Sudahi saja ya membacanya'
.
Ku tarik selimut ku lagi,
Aku bertanya tanya tentang apa sebenarnya yang belum selesai antara aku dengan diriku sendiri. Sementara aku telah memaafkan diriku, menerima masa lalu, berdamai dengan keadaan, dan ku selesaikan segala perencanaan. 
Tapi nyatanya ada satu yang belum pernah aku selesai, yaitu memperbaiki sikapku dengan Rabbku. Itu adalah pekerjaan yang tak pernah selesai memang, dan ini harus terus ku perbaiki sampai jatah hidupku selesai. 
.
Dari sini aku belajar, apa arti menerima keadaan. Karena masa depan baik itu hanya untuk orang orang yang mau memperbaiki kesalahannya di masa lalu. 
Maafkan, lepaskan, pergilah ! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk setiap huruf yang telah kau susun. Semoga dapat menumbuhkan harapan baru. Untuk setiap kalimat yang sukses kau rangkai. Semoga dapat menghadirkan semangat baru. Untuk setiap paragraf yang berhasil kau tata. Semoga dapat menggelorakan cita. Untuk mu yang sedang berjuang merealisasikan kata kalimat, dan paragrafnya dalam setiap pilihan jenakanya. Selamat bertemu dengan kejutan demi kejutan yang akan selalu menerbitkan purnama di wajahmu.

RUMAH

Seseorang bilang, rumah adalah tempat ternyaman untuk pulang. Iya bukan?  .  Hemm... Ada sebagian orang menganggap pulang adalah tempat ternyaman setelah proses pencarian panjang. Sebagian yang lain menganggap pulang membuatnya tak nyaman.  Ada yang raganya di rumah tapi tidak dengan hatinya.  Ada yang begitu merindukan rumah untuk sekedar melepas lelah.  Ada juga yang bahkan hanya ingin tetap tinggal di rumah, kemampuan ia pergi rumah adalah tempat nya pulang.  Begitulah...  . Pulangmu tidak hanya tentang jasad yang hadir, karena betapa banyak orang yang berdekatan tapi tidak terikat hatinya. Betapa banyak orang yang pulang ke rumah tapi tidak benar-benar mereka pulang, mungkin jasad nya di sana tapi tidak dengan hati dan pikirannya. Pulangmu tidak harus selalu melalui darat,laut, ataupun udara, pulang mu juga bisa melalui suara yang menghubungkanmu dengan orang-orang di rumah atau teman-teman yang jauh di perantauan. Kamu hadir di sana me...
Kebanyakan dari kita tanpa kita sadari mulai menjadi realistis. Banting setir. Berbelok arah dari apa yang telah lama dijalani, entah karena paksaan atau tahanan, menuju arah jalan yang berbeda, bahkan tidak sedikit yang kontradiktif. Pada titik semacam itulah kita mulai merasa lelah. Kebingungan. Mulai menanyakan "apakah selama ini aku salah jalan?".  . Hai kamu,  bahwa dari kebingungan dan kesedihan akan kerelaan untuk melepas apa-apa yang sudah lama kita pegang ada satu yang perlu kita sadari dari peluh, selain kita sedang bertumbuh hidup kita bergeser dari "mencari makna" menuju "menjadi makna".