Langsung ke konten utama

ASA DAN RASA


Dalam hening aku mencoba menerka, apa makna melupa.
Dalam diam aku mencoba mencari, apa makna mengagumi.
Aku mencoba menulis asa tapi tiada kata.
Aku mencoba menilai rasa tapi tiada makna. 
Ah, lagi" ini tentang asa dan rasa. 
Hingga lupa mana asa mana rasa. 
.
Seringkali pikiran ku terjebak pada hati, ku turuti ia pada rasa yang sudah ku buat sendiri. Lagi lagi di buatnya patah berkali kali. Lalu, kemudian menyalahkan diri sendiri. 
.
Kemampuan ku untuk berfikir logis terasa terkikis oleh perasaanku sendiri. Perasaan-perasaan yang seolah kejadian biasa tapi justru menjadi muara perasaan harapanku. Padahal hanya biasa, pikiranku terlalu menghubungkan ke mana-mana. Mencari pembenaran tentang bagaimana perasaan ini pasti sesuai perkiraanku. 
.
"Memang siapa yang menyuruhmu seperti ini?" tanya seseorang.
"Asumsiku sendiri" ujarku.
.
Hay, jangan bercanda lagi, jangan bermain lagi. Sudah cukupkan asumsimu itu, kamu telah lama membuang waktu. 
.
Aku dibuatnya menyudahi. 
Karena ada asa yang harus ku bangun kemudian hari. 
.
.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk setiap huruf yang telah kau susun. Semoga dapat menumbuhkan harapan baru. Untuk setiap kalimat yang sukses kau rangkai. Semoga dapat menghadirkan semangat baru. Untuk setiap paragraf yang berhasil kau tata. Semoga dapat menggelorakan cita. Untuk mu yang sedang berjuang merealisasikan kata kalimat, dan paragrafnya dalam setiap pilihan jenakanya. Selamat bertemu dengan kejutan demi kejutan yang akan selalu menerbitkan purnama di wajahmu.

RUMAH

Seseorang bilang, rumah adalah tempat ternyaman untuk pulang. Iya bukan?  .  Hemm... Ada sebagian orang menganggap pulang adalah tempat ternyaman setelah proses pencarian panjang. Sebagian yang lain menganggap pulang membuatnya tak nyaman.  Ada yang raganya di rumah tapi tidak dengan hatinya.  Ada yang begitu merindukan rumah untuk sekedar melepas lelah.  Ada juga yang bahkan hanya ingin tetap tinggal di rumah, kemampuan ia pergi rumah adalah tempat nya pulang.  Begitulah...  . Pulangmu tidak hanya tentang jasad yang hadir, karena betapa banyak orang yang berdekatan tapi tidak terikat hatinya. Betapa banyak orang yang pulang ke rumah tapi tidak benar-benar mereka pulang, mungkin jasad nya di sana tapi tidak dengan hati dan pikirannya. Pulangmu tidak harus selalu melalui darat,laut, ataupun udara, pulang mu juga bisa melalui suara yang menghubungkanmu dengan orang-orang di rumah atau teman-teman yang jauh di perantauan. Kamu hadir di sana me...
Kebanyakan dari kita tanpa kita sadari mulai menjadi realistis. Banting setir. Berbelok arah dari apa yang telah lama dijalani, entah karena paksaan atau tahanan, menuju arah jalan yang berbeda, bahkan tidak sedikit yang kontradiktif. Pada titik semacam itulah kita mulai merasa lelah. Kebingungan. Mulai menanyakan "apakah selama ini aku salah jalan?".  . Hai kamu,  bahwa dari kebingungan dan kesedihan akan kerelaan untuk melepas apa-apa yang sudah lama kita pegang ada satu yang perlu kita sadari dari peluh, selain kita sedang bertumbuh hidup kita bergeser dari "mencari makna" menuju "menjadi makna".