Langsung ke konten utama

KATANYA, JALANKU MUDAH


"Eh, kamu tu enak banget si hidup nya, kayak nya mulus" aja, kayak gak ada masalah, datar, santai," 
__________________________________________

Kata seorang temanku. Aku ingat sekali perkataan itu meskipun sudah beberapa tahun lalu.  
Hemmm... 
Terkadang sesuatu yang mereka pikirkan itu tidak selaras dengan kenyataan ya. Itu hanya penilaian manusia saja. Batinku
.
.
Bukan hidup nya mulus" aja, bukan datar, juga bukan tak punya masalah. Kamunya saja yang belum mengetahui. 
.
Hidup ini punya porsinya masing-masing kawan. Allah kasih takaran ujiannya masing-masing. Gak mungkin seseorang itu gk punya masalah. Bukankah kita hidup di dunia ini pasti ada ujiannya ? Kata Allah dalam firman-Nya ;

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُون
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al Ankabut [29]: 2-3)

Ada beberapa riwayat mengenai sabab al-nuzûl ayat ini. Meskipun demikian, ayat ini tidak hanya berlaku untuk mereka. Sebab, kata al-nâs memberikan makna umum yang berarti meliputi seluruh manusia.
Ayat tersebut menegaskan bahwa orang beriman pasti akan diuji. Ujian dapat berupa hal yang tidak menyenangkan maupun hal yang menyenangkan.
.
Dari ayat itu aku menyelami lagi apa makna Ujian yang Allah kasih.
Padahal seringkali aku merasa mengeluh, itulah kenapa terkadang juga aku sering membandingkan hidup ku dengan hidup orang lain. Astaghfirullah... :( 
Akhirnya aku paham, semakin kesini semakin ku tahu tentang orang-orang yang Allah beri ujian lebih, tapi ia tetap tenang, tapi ia tetap kuat, tapi ia tak pernah mengeluh. 
.
Perbanyak syukur bagiku adalah pekerjaan yang tak pernah habis. Bagaimana tidak,
ternyata mengaca pada hidup orang lain itu perlu. Bukan yang lebih mudah ujiannya dari kita, tapi yang lebih berat ujiannya di banding kita. Karena dengan mereka kita akan banyak belajar makna mensyukuri lagi dan lagi. Bagaimana cara mereka menjalani upaya upaya itu agar tetap terukir bahagia. Dan sejatinya bukan bahagia yang kita cari, tapi bagaimana kita mencipta bahagia itu sendiri. Jangan melihat kedepan untuk menerima begitu saja, namun lihatlah ke belakang agar kita semakin percaya akan ketetapan-Nya. 
.
Allah Terimakasih telah menegurku tak henti-hentinya. 
....................


#tulisan ini ku tulis ketika aku sedang dibuat sadar pada cerita hidup seseorang yang bahkan ujian hidup nya tak pernah ku tahu. 
Untuk mu... hanya lewat do'a caraku membantu mu. 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk setiap huruf yang telah kau susun. Semoga dapat menumbuhkan harapan baru. Untuk setiap kalimat yang sukses kau rangkai. Semoga dapat menghadirkan semangat baru. Untuk setiap paragraf yang berhasil kau tata. Semoga dapat menggelorakan cita. Untuk mu yang sedang berjuang merealisasikan kata kalimat, dan paragrafnya dalam setiap pilihan jenakanya. Selamat bertemu dengan kejutan demi kejutan yang akan selalu menerbitkan purnama di wajahmu.

RUMAH

Seseorang bilang, rumah adalah tempat ternyaman untuk pulang. Iya bukan?  .  Hemm... Ada sebagian orang menganggap pulang adalah tempat ternyaman setelah proses pencarian panjang. Sebagian yang lain menganggap pulang membuatnya tak nyaman.  Ada yang raganya di rumah tapi tidak dengan hatinya.  Ada yang begitu merindukan rumah untuk sekedar melepas lelah.  Ada juga yang bahkan hanya ingin tetap tinggal di rumah, kemampuan ia pergi rumah adalah tempat nya pulang.  Begitulah...  . Pulangmu tidak hanya tentang jasad yang hadir, karena betapa banyak orang yang berdekatan tapi tidak terikat hatinya. Betapa banyak orang yang pulang ke rumah tapi tidak benar-benar mereka pulang, mungkin jasad nya di sana tapi tidak dengan hati dan pikirannya. Pulangmu tidak harus selalu melalui darat,laut, ataupun udara, pulang mu juga bisa melalui suara yang menghubungkanmu dengan orang-orang di rumah atau teman-teman yang jauh di perantauan. Kamu hadir di sana me...
Kebanyakan dari kita tanpa kita sadari mulai menjadi realistis. Banting setir. Berbelok arah dari apa yang telah lama dijalani, entah karena paksaan atau tahanan, menuju arah jalan yang berbeda, bahkan tidak sedikit yang kontradiktif. Pada titik semacam itulah kita mulai merasa lelah. Kebingungan. Mulai menanyakan "apakah selama ini aku salah jalan?".  . Hai kamu,  bahwa dari kebingungan dan kesedihan akan kerelaan untuk melepas apa-apa yang sudah lama kita pegang ada satu yang perlu kita sadari dari peluh, selain kita sedang bertumbuh hidup kita bergeser dari "mencari makna" menuju "menjadi makna".